Anak Nelayan Kerja Lima Jam Sehari
Sulung Prasetyo | (dok/antara)
Nelayan sedang memisahkan ikan untuk dijual kepada pelanggan di TPI, Muara Angke beberapa waktu lalu.
Kebanyakan anak nelayan menjadi pekerja karena tidak mendapatkan pendidikan baik.
Jakarta-kbn
Meskipun pemerintah Indonesia telah mengeluarkan peraturan mengenai perlindungan anak dari kewajiban melakukan pekerjaan, pada kenyataannya masih banyak anak nelayan yang dipaksa bekerja selama paling tidak lima jam per hari.
Demikian laporan yang dikeluarkan Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara), Jumat (5/7).
Kiara yang melakukan pengamatan pada wilayah kampung Marunda Kepu, Cilincing, Jakarta Utara, mendapati sedikitnya 10 anak bekerja mengupas kerang hijau dalam tempo lima jam per hari. Rata-rata mereka menghasilkan 2-3 kilogram (kg) kerang hijau terkupas per hari, dengan upah Rp 2.500 per kg.
“Ironisnya, mereka menggunakan pisau tajam dan mengupas kerang hijau dalam kondisi panas setelah direbus,” ungkap Abdul Halim, Sekretaris Jenderal Kiara.
Menurutnya, hal tersebut telah melanggar UU No 23/2003 tentang Perlindungan Anak. UU itu mewajibkan negara untuk melindungi anak tanpa melihat agama, ras atau suku, jenis kelamin, budaya, bahasa, maupun kondisi fisik atau mental.
Oleh karena itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) diharap bertindak tegas menegakkan hukum yang berlaku dan mengevaluasi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
“Selain juga memberikan jaminan perlindungan sosial bagi keluarga nelayan, seperti modal untuk melaut, jaminan kesehatan, dan hak-hak dasar lainnya,” katanya.
Kiara juga mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) 2011 menunjukkan di Indonesia, terdapat sedikitnya 1,7 juta anak yang bekerja di tempat berbahaya, di antaranya di sektor perikanan, pertambangan, penggalian, pertanian, pelayanan rumah tangga, dan industri jasa.
Beberapa penelitian lain menyebutkan kebanyakan anak nelayan menjadi pekerja karena faktor keluarga yang tak mendukung untuk mendapatkan pendidikan baik, dan faktor pemerintah yang tidak menyediakan sarana pendidikan yang memadai.
Salah satunya penelitian Mita Mustikasari dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Penelitian di Kampung nelayan Kandanghaur, Indramayu itu menunjukkan faktor penyebab anak-anak nelayan menjadi pekerja karena minimnya dukungan orang tua dan pemerintah.
Orang tua pada kasus tersebut tidak menyarankan anak untuk belajar di wktu luang mereka, namun lebih memilih membantu mereka untuk memperoleh pegnhasilan lebih besar. Sementara itu dukungan pemerintah melalui fasilitas sekolah yang dekat dengan perkampungan juga tak pernah terwujud.
“Orang tua seharusnya tidak memperkerjakan anak-anak yang masih berada pada usia sekolah untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup keluarga, karena hal tersebut akan mengganggu aktivitas belajar anak di sekolah maupun di rumah,” ujar Mita pada penelitian yang dilakukan pada 2012 tersebut.
Hal serupa juga terjadi di kampung nelayan Ujung Watu, Jepara. Menurut penelitian Sugiyarto dari Universitas Diponegoro, kebanyakan anak nelayan menjadi pekerja, karena minimnya tingkat pendikan yang dimiliki. Menurutnya, bagian terbesar dari pendidikan nelayan hanya setingkat sekolah dasar. (Wheny Hari Muljati)
Sumber : Sinar Harapan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar